“Dan hendaklah ada diantara kamu suatu umat yang menyeru untuk berbuat kebaikan, dan menyuruh orang melakukan yang benar, serta melarang yang mungkar. Merekalah orang yang mencapai kejayaan”
-QS Ali ‘imran (keluarga imran) 3;104-
Pengalaman kehidupan dan lingkungan akan sangat mempengaruhi cara berpikir seseorang, yang pada akhirnya berakibat pada terciptanya sosok manusia bentukan dari lingkungan sosialnya. Bisa dibayangkan, apabila seseorang berada dalam lingkungan yang buruk, maka ia pun akan menjadi seseorang seperti lingkungannya itu. Sebagai contoh, seorang anak yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan keakraban dalam lingkungan keluarga, maka ia akan belajar hidup dengan penuh perasaan cinta serta bersahabat. Berbeda dengan lingkungan yang penuh dengan celaan, hinaan, permusuhan, hanya akan menghasilkan manusia-manusia denga pribadi labil dan kurang bermoral.
“Bagaikan pembawa misik (kasturi), dengan peniup api tukang besi, maka yang membawa misik, adakalanya memberimu atau Anda membeli padanya, atau mendapat bau harum padanya, atau mendapat bau harum darinya. Adapun peniup api tukang besi, jika tidak membakar bajumu, atau Anda mendapat bau yang busuk daripadanya.”
-HR Bukhari dan Muslim-
Pengalaman-pengalaman hidup serta kejadian yang dialami seseorang sangat berperan dalam menciptakan pemikiran dalam dirinya sebuah pradigma yang melekat erat dalam pikiran. Seringkali pradigma itu dijadikan sebagai kaca mata dan tolok ukur bagi dirinya, juga dalam menilai lingkungan disekitarnya. Hal ini jelas akan sangat merugikan bagi dirinya sendiri, bahkan bagi orang lain. Hal tersebut akan membatasi cakrawala berpikir seseorang, akibatnya, seseorang akan melihat segala sesuatu dengan sangat subyektif.
Suara hatilah yang sebenarnya berpotensi melindungi diri dari pengaruh pengalaman hidup; juga kejadian-kejadian disekitar kita, bukan sikap proaktif yang sering kali menjadi respon dari setiap kondisi yang kita alami, sikap proaktif hanyalah sebatas metode untuk melihat sesuatu secara berbeda. Merespon suatu keadaan/kondisi kehidupan secara proaktif tanpa dilandasi prinsip nilai yang benar, hanya akan menjebloskan diri kita pada pradigma keliru lainnya yang tidak kalah menyesatkan.
“Bebaskan diri anda dari pengalaman-pengalaman yang membelenggu pikiran, berpikirlah merdeka!”
Dalam hatinya ada penyakit dan Allah menambah penyakitnya itu. Mereka beroleh azab ang pedih menyakitkan, disebabkan karena mereka berdusta.”
-QS Al Baqarah(Sapi betina) 2:10-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar